Tertib di Jalan Cermin Budaya Kita


Penilaian masyarakat tentang buruknya perilaku pengguna jalan di Kalimantan Selatan menjadi salah satu poin penting yang mengemuka pada Sarasehan Sehari Tentang Tugas dan fungsi Lantas Dalam Rangka Meningkatkan Pelayanan Kepada Masyarakat (BPost, 7 Des 2005). Bahkan perilaku ini sudah menjadi stigma negatif yang dilekatkan kepada masyarakat Kalsel di luar daerahnya. Agaknya hal ini perlu menjadi perhatian kita bersama karena menyangkut kredibilitas dan wibawa masyarakat Kalimantan Selatan. Karena, tentunya kita tidak ingin dianggap sebagai masyarakat yang tidak tertib, sulit diatur dan ugal-ugalan.

Agaknya slogan yang sering dicantumkan dalam spanduk-spanduk Polisi bahwa ketertiban di jalan adalah cerminan budaya sangat tepat. Mengingat cara memanfaatkan dan menggunakan fasilitas jalan sebenarnya adalah strategi menyiasati hidup yang merupakan bagian dari kebudayaan. Menurut C. Geertz, kebudayaan adalah objek, tindakan atau peristiwa dalam dunia yang dapat disaksikan, dirasakan dan dipahami yang mengisyaratkan makna-makna antara pikiran anggota-anggota individual masyarakat (Keesing,1981:48). Bisa diartikan bahwa pola tindakan masyarakat dimana pun, termasuk di jalan raya adalah serangkai dengan pola pikir masyarakatnya.

Pola pikir yang dimiliki oleh masyarakat terlahir melalui proses yang panjang dan melalui mekanisme try and error sebagai bagian dari strategi untuk survive. Seperti timbulnya budaya untuk membangun rumah panggung, atau pola tindakan pemanfaatan air sungai untuk kehidupan (dalam hal ini strategi mengambil air sungai untuk dikonsumsi yang biasanya dilakukan pada jam-jam tertentu) adalah sebagian kecil dari strategi tersebut. Demikian pula dengan budaya penggunaan jalan, terlahir dari sebuah mekanisme mempertahankan diri.

Budaya juga mengembangkan rasionalitasnya sendiri yang merupakan keterwakilan dari keadaan lingkungan atau alam. Tidak ada benar dan salah dalam memahami konteks perbedaan budaya. Mengingat keadaan lingkungan yang melingkupi dan melahirkan kebudayaan tersebut sangat berbeda antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya.

Terdapat beberapa alasan yanag bisa dianalisa sebagai penyebab atau paling tidak pendorong budaya penggunaan jalan yang cenderung tidak tertib. Pertama, karena budaya adalah strategi menyiasati keadaan lingkungan perlu kita tengok lingkungan jalanan di Kalsel ini. Dengan keadaan jalanan yang cukup (kalau tidak ingin dibilang sangat jelek), terutama dikarenakan ketidakmampuan jalan untuk menanggung beban diatasnya (truk batubara?) mengakibatkan banyak sekali ruas jalan yang sudah tidak lagi menjadi “jalan”. Keadaan jalan yang mulus menjadi sesuatu yang sangat didambakan, belum lagi waktu yang telah terbuang percuma karena harus menyusuri jalanan yang rusak tadi juga harus dikompensasi pada jalan-jalan mulus. Pada akhirnya timbullah perilaku kebut-kebutan sebagai tindakan yang terlihat karena beberapa faktor tadi.

Masih karena jalanan rusak, jika kebut-kebutan adalah strategi antisipasi dari jalan yang rusak seluruhnya (badan jalan). Perilaku berkendaraan yang cenderung ketengah jalan, dalam artian tidak menggunakan lajur kiri atau kanan tetapi justru di tengah-tengah bisa ditarik akar permasalahannya karena banyaknya jalanan yang rusak pada bagian kiri jalan, atau terlalu tingginya perbedaan antara jalan dan bahu jalan. Tentunya dengan keadaan jalanan yang demikian, pola tingkah laku masyarakat sebagai bentuk strategi untuk survive adalah dengan menggunakan bagaian tengah jalan, yang cenderung menyulitkan pengendara di belakangnya untuk mendahului. Demikian pula kebiasaan menghentikan kendaraan atau memarkirkan kendaraan mash diatas jalan raya. Perilaku ini tanpa disadari terbawa pula pada keadaan-keadaan yang tidak memerlukan tindakan tersebut.

Berdasarkan uraian diatas, perlu kiranya dilakukan perbaikan sarana jalan sebagai tindakan first think first sebagai sarana solusi “membudayakan” para pengguna jalanan. Jadi tidak hanya mengandalkan kerja polisi untuk melakukan razia atau penyuluhan seperti rekomendasi beberapa peserta sarasehan diatas. Tulisan ini juga dimaksudkan agar tidak hanya pengguna jalan saja yang mesti disalahkan dan dituntut melakukan perubahan, tetapi melihat permasalahan lebih dalam dan berskala luas agar solusi yang dapat diambil lebih berdampak dan tidak terkesan lipservice. Semoga .....

0 komentar:

Post a Comment