Untuk KPID Kalimantan Selatan11 September 2001, dunia gempar. Dengan mulut menganga dan jantung berdegup cepat, semua mata menyaksikan kejadian ditabraknya gedung tertinggi di dunia, WTC dengan menggunakan pesawat bajakan. Suara histeris sang reporter, ditimpali pekikan massa yang berhamburan menyelamatkan diri, tergambar nyata suasana kepanikan itu, hingga kita pun ikut merasakan…
Kita pun terharu biru dan memuncak emosi ketika melihat berita tragedi Tsunami Aceh-Nias di akhir Desember 2004. Mayat bergelimpangan, puing bangunan berserakan. Bahkan tempat duduk dan kehangatan ruang televisi kita berasa sebuah kemunafikan. Hingga semua orang pun bergegas memberi bantuan, posko kepedulian didirikan, kelompok relawan berdatangan, simpati dunia pun tercurahkan untuk Aceh saat itu.
Fenomena ini, menurut Marshall McLuhan menunjukkan bahwa dunia kita sekarang ini menjadi seperti global village, sebuah borderless world. Perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan sudah semakin mendekatkan jarak dan memperpendek waktu. Kejadian di belahan dunia lain yang terbentang jutaan kilometer, secara real time bisa kita ketahui.
Peran media massa menjadi tokoh sentral dalam menjadikan dunia ini menjadi desa yang sempit. Lewat media massa pula segala perkembangan dunia terdokumentasikan, segala idiologi disebarkan, dan semua gaya hidup diajarkan. Masyarakat sudah menjadi one community, komunitas yang dibangun dan dibesarkan oleh media massa. Tengok saja gaya pakaian remaja kita, tak jauh berbeda dengan pakaian yang dikenakan Britney Spears. Atau jika anda belum mencicipi rasanya Coca-Cola dan renyahnya ayam Kentucy, mungkin akan dikira manusia gua. Apa yang diistilahkan sebagai pop culture inilah yang menurut George Ritzer (1993) disebut sebagai The McDonaldization of Society.
Sumbangsih yang demikian besar dari media massa menempatkannya menjadi entitas sentral dalam membangun membina dan mengarahkan masyarakat. Tentunya kita masih ingat di jaman pra kemerdekaan bangsa ini, kehadiran media sangat membantu tegaknya Negara. Lacak jejak sejarah memperlihatkan bagaimana Medan Priyayi, yang diterbitkan di Medan tahun 1907 oleh RM. Tirto Adhi Surjo, mengusung ide kebangsaan dan nasionalisme pribumi (sebagai kata ganti Indonesia). Kita pun tahu bagaimana kiprah para pelajar Indonesia di Belanda menjaga dan meningkatkan ide kemerdekaan lewat media penerbitan majalah Hindia Poetra, yang kemudian mengalami metamorforsis pada tahun 1924 menjadi Indonesia Merdeka. Atau peranan Radio yang begitu berjasa menyampaikan berita kemerdekaan ke pelosok negri hingga ke manca Negara.
Media massa juga menjadi tempat curahan pemikiran pendiri bangsa ini, sebagai contoh, tak kurang ratusan tulisan Moh. Hatta tersebar di harian Daulat Rakyat, Pemandangan, Mata Hari, Asia Raya, Persatuan Indonesia dan lain-lain. Memasuki masa kemerdekaan, media massa juga menjadi alat kampanye politik dan idiologi, lihatlah medio awal kemerdekaan kita, kehadiran Sulindo (Suluh Indonesia) sebagai corong PNI, koran Harian Rakjat dan Bintang Timur yang condong ke PKI, Duta Masjarakat yang secara terang-terangan mendukung partai Nahdhatul Ulama, dan masih banyak lagi yang lain.
Agaknya peran media massa sudah sangat disadari oleh semua pihak, bukan hanya sebatas penyampai berita dan informasi tetapi sudah menjadi sarana memprovokasi, agitasi dan mengarahkan massa. McLeod dan Chaffe (1973) melihat media massa tidak lagi hanya melakukan komunikasi dua arah antara communicant dan communicator, tetapi melibatkan pula elite yang biasanya diartikan sebagai kekuatan politik di dalam masyarakat. Kolaborasi elite dan media massa tentunya akan menciptakan sebuah konspirasi berita dan pencitraan terhadap seseorang atau sesuatu, jika ini terjadi secara terus menerus maka akan muncul apa yang dikatakan Maxwell McCombs dan Donald Shaw sebagai agenda setting. Dari berbagai topik yang dimuat media massa, topik yang mendapat lebih banyak perhatian dari media tersebut akan menjadi lebih akrab bagi pembaca atau pemirsanya, dan akan dianggap lebih penting dibandingkan yang lain. Kekhawatirannya adalah kelompok elite atau penguasa ekonomi menggunakan media massa untuk menggiring masyarakat pada ketundukan terhadap status quo sosial dan ekonomi, sehingga memperkecil kritik sosial dan memperlemah kemampuan khalayak untuk berpikir kritis. Contoh dalam Hal ini Amerika paling canggih, berbagai film diproduksi untuk Imagination change memanipulasi kekalahan Amerika Serikat di perang Vietnam, film yang paling terkenal adalah Rambo hingga beberapa sekuel. Atau kebohongan yang disebarkan dalam Black Hawk Down, untuk mengelabui kekalahan mereka di Somalia.
Kecenderungan yang patut diantisipasi adalah mulai lahirnya Murdoch ala Indonesia, dengan kekuatan modalnya mampu membuat atau memiliki beberapa media massa sekaligus, seperti Hary Tanu dengan RCTI, TPI dan Global untuk televisi, Trijaya Network untuk radio, Sindo, dan Genie untuk Koran, majalah, atau “Pak Jenggot” Surya Paloh dengan kepemilikan Metro TV dan Media Indonesia, dan yang paling hanyar adalah Chairul Tanjung (dokter Gigi lulusan UI yang tidak pernah praktek) yang melakukan aneksasi terhadap Trans7 (yang dahulu bernama TV7), setelah sebelumnya memiliki TransTV. Dan jangan dilupakan pula sepak terjang Kompas Gramedia Group yang hingga kini masih merajai semua segment media cetak.
Selain masalah independensi, media massa juga memiliki sifat massif atau menurut istilah Paul Lazarsfeld dan Robert K. Merton disebut sebagai Ubiquity (sifat hadir dimana-mana). Kehadiran media yang menelusup hingga ke ruang-ruang pribadi telah menjadikannya sebagai salah satu sarana pembangunan karakter tingkah laku terutama pada generasi muda. Menurut Kamanto Sunarto (2000) yang mengutip pendapat Fuller dan Jacobs, media massa adalah salah satu dari empat agen sosialisasi utama selain: keluarga, kelompok bermain, dan sistem pendidikan.
Kekhawatiran berlipat jika isi media banyak menonjolkan materi seksualitas dan kekerasan. Sebuah survey nasional yang dilakukan oleh Komisi Kecabulan dan Pornografi di Amerika Serikat pada tahun 1970 memperlihatkan bahwa sekitar 2/3 orang dewasa percaya bahwa materi seksual merangsang orang secara seksual. Hal senada ditemukan dari penelitian Gallup Polls sekitar tahun 1950-an, bahwa tujuh dari sepuluh orang Amerika Serikat percaya bahwa delinquency pada remaja sebagiannya dipengaruhi oleh media massa seperti buku komik mengenai kejahatan dan film detektif dalam televisi atau radio.
Media massa juga banyak yang terjebak menjadi media escapism (pelarian dari dunia nyata ke dunia mimpi). Dia tidak menempatkan berita tentang realita penderitaan rakyat dan bagaimana meningkatkan taraf hidupnya, tetapi justru menyuguhkan cerita-cerita yang me-nina bobo-kan dan menjual mimpi. Dengan terjebaknya media menjadi media escapism, bisa menyebabkan hilangnya jatidiri dan karakter budaya bangsa Indonesia (the dying culture). Di sisi yang lain kebebasan media massa dianggap sudah ke-bablasan meng”utak-atik” urusan privasi orang lain, dan mereka menamakan diri sebagai media info-tainment. Tentunya masih lekat di ingatan kita satu moment tragis tewasnya Lady Di, gara-gara mobilnya menabrak tiang terowongan dalam upaya menghindari kejaran paparazzi.
Saat ini media massa sedang mengalami masa euphoria kebebasan, dengan adanya kebebasan informasi yang dilindungi oleh konstitusi lewat Ketetapan MPR No. 17 tentang HAM, terutama Bab IV, dan lahirnya UU No. 40/1999 tentang pers, serta UU Penyiaran No. 32/02, lengkaplah sudah perubahan situasi media massa menjadi media massa yang liberal. Liberalitas media massa inilah yang menurut Pareto (seorang sosiolog Itali) diistilahkan seperti dua sisi mata uang, memiliki keuntungan dan kerugian.
Sebagai seorang belatar belakang pendidikian kriminologi, menurut hemat saya banyak hal yang bisa kita lakukan sebelum kriminalisasi terhadap media sebagai upaya pencegahan terhadap berbagai kemungkinan negative diatas. Menciptakan media massa yang jujur, menjunjung kode etik jurnalistik cetak dan penyiaran sebagai bagian dari desah nafas kehidupannya. Disertai dengan pemahaman undang-undang pers dan penyiaran sebagai jalan berpijaknya.
Ditengah derasnya liberalisasi ini perlu dan harus dibangun character building insan-insan media massa yang mampu menjunjung tinggi nilai profesionalitas, berhati nurani dan pemahaman tentang HAM yang mumpuni. Dengan demikian diharapkan kehadiran media massa mampu menjadi katalisator dan dinamisator perubahan masyarakat menuju masyarakat yang lebih konstruktif dan manusiawi.
Kita tahu bahwa, anak-anak kita sekarang sudah menghabiskan banyak waktunya untuk besar dan dibimbing oleh media massa, baik itu sendiri atau bersama teman dan keluarga. Banyak wanita mendengarkan radio untuk mengatasi permasalahan pribadi mereka, demikian pula televisi dijadikan rujukan untuk mencari pemecahan masalah pribadi, dan banyak pembelajaran mengenai hal baru didapatkan. Jangan heran jika beberapa remaja smp dan sma menjadikan media massa sebagai sumber informasi paling berpengaruh untuk membentuk pendapat pribadi terhadap permasalahan aktual, dibandingkan informasi dari teman, guru atau bahkan orang tua.
Media massa adalah salah satu tumpuan harapan dan cita-cita perbaikan bangsa ini. Dengan sifatnya yang massif, murah dan infected (mampu mempengaruhi), di tangan merekalah pembangunan karakter bangsa kita secara jangka panjang akan ditentukan. We will be a winner nation or just a “trash” looser one. Dan Allah jualah yang Maha Tahu.
Qomarudin Sukri
Lecturer, Researcher, Social Worker, Criminologist
http://qsukri.blogspot.com/
nama saya wahyu putra asli banjar... saya mau bertanya kepada anda.. bagaimana reaksi dan pendapat anda soal tambang batu bara??? anda pasti sudah melihat tambang batu bara pada saat ini dan sesudah di ambil hasilnya...
ReplyDeleteapa dampak sosial yang positif dengan adanya tambang batu bara??? saya sangat sedih melihat tanah kelahiran saya yang hancur oleh para mucikari-mucikari tambang.. ditambah pelacur pelacur jagau2 tambang yang menyedihkan... anda sebagai ahli sosial, kesehatan, CD, kriminolog dll... apa pendapat anda??? seandainya tanah kelahiran anda, tempat tinggal, hutan anda, di perlakukan seperti saat ini???