Research Project Perilaku Seks Pra Nikah Pelajar 3 Kota di Kalimantan Selatan

Pengantar

Satu lagi manfaat kecanggihan teknologi, terutama Handphone berkamera dan Internet adalah tersibaknya perilaku seks bebas dikalangan remaja. Hasil penelitian yang kami lakukan, hampir setiap warnet (warung internet) di kota Banjarbaru Kalimantan Selatan, yang memberikan layanan kepada masyarakat umum tanpa pembatasan golongan usia telah dilakukan akses terhadap situs porno, dibuktikan dengan adanya gambar porno (wanita telanjang) atau adegan hubungan sebadan baik normal antara laki-laki dan perempuan atau yang abnormal.

Temuan lainnya, terindikasikan adanya pekerja seks komersial (PSK) yang mengaku berstatus pelajar, dengan target para karyawan-karyawan swasta BUMN ataupun pegawai negeri. Modus operandi yang dilakukan adalah dengan berpura-pura menelepon dan menyatakan salah sambung, kemudian mengajak ngobrol. Jika respon positif yang diberikan calon korban tahap pertama adalah mengajak bertemu sekedar makan siang atau makan malam, baru mengajak berkencan. Jika ajakan berkencan ditolak, meminta dibelikan voucher isi ulang cukup sajalah.

Akibat dari menjadikan kota pendidikan, menjamurnya pendatang dari berbagai kota untuk menuntut ilmu. Konsekuensi atau peluang bisnis di bidang sewa-menyewa tempat kost menjadi bagian penyediaan layanan bagi kaum pendatang ini, beberapa jenis tempat kost atau kontrakan ternyata menerapkan prosedur pengawasan yang cukup longgar kepada penghuninya, terutama sekali ketiadaan induk semang atau penjaga tempat kost. Hal ini membawa kesempatan temapat kost atau kontrakan dijadikan tempat berpacaran dan terindikasi dilakukannya perilaku seks bebas.

Latar Belakang Ilmiah

Laporan UNICEF tahun 2004, di Indonesia diperkirakan 30 % pekerja seks komersial berumur di bawah 18 tahun, bahkan ada beberapa yang masih berumur 10 tahun. Diperkirakan pula sekitar 40.000 – 70.000 anak menjadi korban eksploitasi seksual dan sekitar 100.000 anak diperdagangkan setiap tahunnya. Sebagian besar dari mereka dipaksa masuk dalam industri seks, hal ini berkaiatan dengan menjadikan pariwisata seks menjadi salah satu isu komoditas unggulan di daearah wisata seperti Bali dan Lombok. Banyak terdapat pelacuran di lokalisasi pelacuran (jika kita anggap sebagai tempatnya), karaoke, panti pijat, dan mal (ini pelacuran terselubung). Tetapi anehnya sebagian besar pelanggannya adalah orang lokal.

Hipotesis

Kekhawatiran kami adalah Terance H. Hull dalam bukunya Pelacuran di Indonesia terbitan Pustaka Sinar Harapan tahun 1997, menemukan bahwa salah satu pintu masuk ke dunia prostitusi adalah perilaku seks pra nikah yang tidak disertai tanggungjawab terutama dari pihak laki-laki. Sebagai bentuk kekecewaan dan pembalasan dendam terhadap laki-laki korban melacurkan dirinya.

Daerah Kalimantan Selatan yang di claim sebagai daerah religius sebenarnya menyimpan bom waktu. Di satu sisi, masyarakat merasa nyaman dengan tingkat religiusitas tersebut sehingga menafikan adanya potensi perilaku seks pra nikah. Hal ini yang mendorong kami untuk membuktikan secara ilmiah fenomena perilaku sek pra nikah ini dengan berangkat dari hipotesis bahwa perilaku berpacaran mempengaruhi perilaku seks pra nikah di kalangan pelajar di 3 kota di Kalimantan Selatan, yaitu Banjarbaru, Martapura dan Banjarmasin.

Metodologi

Penelitian ini tidak dirancang untuk menggeneralisir temuan pada tingkat populasi. Sebagai populasi kami mengambil pelajar SMA dan SMP di kota Banjarbaru, Banjarmasin dan kota Martapura. Ketiga daerah ini kami anggap sebagai daerah terluar dan termaju dalam hal perkembangan masyarakat dan tingkat pendidikan dari wilayah Kalimantan Selatan. Ketiga daerah ini juga saling berdekatan dengan jarak terjauh sekitar 40 km. Selain itu tingkat adaptif masyarakat terhadap perkembangan teknologi, terutama internet kami anggap relative lebih cepat dibandingkan daerah lain dalam wilayah Kalimantan Selatan.

Estimasi jumlah populasi sekitar 10.000 siswa di ketiga daerah tersebut. Dengan menggunakan teknik pengambilan sample secara accidential sampling, kami mengambil 730 orang siswa sebagai sample. Pembagian proporsi sample dilakukan dengan perkiraan jumlah siswa di Banjarmasin lebih banyak dibandingkan di Banjarbaru dan Kota Martapura.

Penelitian ini juga hanyalah penelitian deskriptif yang dimaksudkan untuk menyuguhkan fenomena perilaku seksual pra nikah dikalangan siswa SMP dan SMA. Penelitian ini tidak diposisikan untuk lebih lanjut menganalisa fenomena tersebut.

Jangka Waktu

Direncanakan waktu yang diperlukan untuk keseluruhan proses penelitian ini adalah 6 bulan. Khusus untuk pengambilan data dilakukan selama dua bulan dari 17 September hingga 30 November 2007.

2 komentar:

  1. Salam mas Sukri. Saya apresiasi efford anda dalam memperkenalkan dan mungkin mengembangkan kriminologi di sana. Kapan kita bisa diskusi lagi nih secara langsung? Salam untuk istri dan anak

    ReplyDelete
  2. saya sangat setuju dengan pendapat anda.
    semoga bapak dan teman-teman bapak dapat melanjutkan perjuangan bapak untuk memberantas seks bebas di kalimantan selatan.
    saya yang pertama mendukung bapak. salam hangat dari naff.by www.bungetz.co.cc

    ReplyDelete