Cerita Lama

Amenangi jaman edan, ewuh aya ing pambudi. Melu edan ora tahan, yen tan elu anglakoni, boya kaduman melik, kaliren wekasanipun, ndilalah karsa Allah, sakbeja-bejani kang lali, luwih beja kang eling lan waspada .( “Serat Kalathida”, Ronggowarsito)

Cerita Dari Negeri Maling

Di suatu negeri antah-berantah, hari ini lahirlah seorang anak manusia dari rahim seorang wanita yang cantik jelita, namanya AKU. KehadiranKU disambut dengan suka cita oleh segenap keluarga, kakek-nenek, paman-bibi, ayah-ibu, kakak, dan saudara-saudara lainnya. Tak ketinggalan tetangga kiri-kanan memberikan selamat kepada keluarga AKU. Bagi keluarga AKU, kehadirannya sudah dinanti dan dipersiapkan sebaik mungkin, bahkan pada bulan ketiga kehamilan ibu AKU, orang tuaKU telah mempersiapkan rencana pendidikan buatKU. Persiapan pendidikan untuk meneruskan tradisi dan cita-cita keluarga. Bahkan seluruh penduduk negeri juga mengharapkan penerus cita-cita dan perjuangan mereka...menjadi maling.

Ya, menjadi maling. Seperti kebanyakan penduduk negeri itu, dan pekerjaan yang telah menjadi tradisi keluargaKU. Bagi mereka, menjadi maling bukanlah pekerjaan yang hina dan kotor, bukan pula pekerjaan yang tercela. Menjadi maling adalah pekerjaan mulia dan terhormat di mata masyarakat. Seorang maling yang dikatakan berhasil dan disegani bisa dilihat dari harta kekayaan yang dimiliki, mulai dari rumah bertingkat dengan halaman luas, kalau perlu dengan kamar yang banyak, walaupun cuma dihuni dua orang, jika bisa lengkap dengan kolam renang ukuran olimpic. Mobil built up keluaran terbaru menjadi tunggangan kesehariannya, pakaiannya bermerek, kalau belanja ke negeri tetangga yang banyak shoping center-nya, plesirnya ke negeri yang bersalju. Itulah ukuran maling yang berhasil dan disegani.

Tetapi jumlah mereka tidaklah banyak, mungkin hanya sekitar 20 persen dari seluruh populasi penduduk negeri maling. Delapan puluh persen lainnya adalah maling-maling kelas kecil yang saling berlomba untuk mempertahankan hidup. Anehnya, dan ini sangat menarik. Hampir sebagian besar penduduk di negeri maling ini mencari nafkah di negeri mereka sendiri. Biasanya, yang mencari rejeki di negeri tetangga justru maling-maling yang kalah bersaing. Atau maling-maling yang karena terlalu polos dan bodoh, sehingga tidak tahu caranya mencuri di negeri sendiri.

Jadi, kalau mereka mencuri di negeri sendiri, siapa korbannya?. Korbannya ya..para maling itu juga yang tidak waspada atau kalah pinter dari maling yang mencuri kekayaannya. Begitulah cara penduduk negeri maling mempertahankan hidup, berkeluarga dan berketurunan merupakan usaha untuk menambah jumlah personil maling

Ada korban lain yang lebih mudah, kalau tidak mau dikatakan paling mudah diambil harta darinya, yaitu negara maling. Lho kok, iya karena negara itu tidak merasa kehilangan ketika kekayaannya dicuri, dan tidak akan melapor ke polisi atas kasus pencurian yang dialaminya. Bahkan negara tidak akan rugi sedikitpun atas pencurian itu. Makanya, karena mencuri dari negara itu mudah, banyak orang yang ingin berada dekat-dekat negara. Setiap ada lowongan menjadi pembantu negara, hampir jutaan yang melamar. Meskipun jatah yang tersedia cuma ribuan saja. Selain mudah mencuri dari negara, pembantu negara juga posisi yang strategis untuk mencuri dari masyarakat. Untuk mengurus surat izin mencuri saja, seseorang perlu stempel dan pengesahan dari pembantu negara. Mengurus izin ini, izin itu kalau mau cepat selesai, harus merelakan uangnya diambil oleh pembantu negara. Kalau tidak rasakan saja sendiri. Bisa-bisa tidak bisa hidup.

Akhirnya, masyarakat yang selalu kecurian itu jika tidak mencuri akan kelaparan. Alhasil, semua barang yang bisa dia curi, ya dia curi. Baik yang berwujud maupun yang tidak berwujud. Ada uang dia sikat, ada barang dia ambil, ehh..ada listrik, air, bahkan udara bersih dia embat juga. Meskipun nantinya bikin perusahaan listrik dan air merugi, dan menjadi alasan untuk menaikkan harga. Ya dicuri lagi, paling alasan kerugian itu juga karena pegawai-pegawainya banyak yang mencuri opportumity profit sehingga tidak sampai ke tangan perusahaan.

Itulah sedikit kisah dari negeri maling, yang entah mau dikata apa, begitulah realitanya. Berbicara realita, ada sebuah kampung “X” yang memiliki penduduk serupa dengan cerita diatas.

Sukri el Qomary, Bogor 05/04/2005 (23:07:25)

0 komentar:

Post a Comment