Menjadikan CSR sebagai issue kerjasama semua pihak,
Sebuah pengantar
Disampaikan pada workshop CSR dan Pembangunan Infrastruktur Provinsi Kalimantan Selatan
Palm Hotel Banjarmasin, 02 Desember 2010
Defini CSR adalah definisi yang sangat lentur, beberapa diantaranya dapat dengan mudah diperoleh melalui berselancar di dunia maya. Banyak definisi yang bisa dikail dari tulisan-tulisan yang bisa diperoleh dengan bebas dan gratis.
Tinjauan atas tumpukan literatur CSR menunjukkan bahwa konsep ini bersifat sangat dinamis. Archie Carroll[1] menyatakan bahwa untuk mengetahui perkembangan gagasan CSR beserta konteksnya, kita setidaknya harus mundur 50 tahun dalam kurun sejarah, dia mengambil momentum terbitnya buku Howard Bowen yang berjudul social responsibilities of businessman pada tahun 1953 sebagai tonggak lahirnya CSR, makanya dia mengusulkan bowen sebagai ‘bapak CSR”.
Akan tetapi ada cukup banyak pihak yang tidak bersetuju dengan usul Carroll itu. Sekadar contoh, karya Balza dan Radojicic[2] serta Blowfield dan Frynas[3] yang menyatakan bahwa untuk memahami CSR dengan komprehensif, bahkan orang harus mengakui sumbangan banyak pemikir pra-Jesus, serta Gereja Kristen abad pertengahan dan ulama fikih muslim, yang notabene adalah ajaran tentang norma atau etika. Kesimpulannya, CSR memang merupakan konsep yang sangat dinamis dan banyak dipengaruhi pemikiran-pemikiran sebelumnya. Tentu, hanya dengan melakukan telaah yang hati-hati saja CSR bisa ditemukan esensinya. Seperti contohnya dilakukan oleh Alexander Dahlsrud[4] yang melakukan telaah terhadap 37 definisi ttg CSR, yang menemukan 5 dimensi dari CSR, yaitu dimensi lingkungan, dimensi social, dimensi ekonomi, dimensi stakeholder, dan dimensi voluntariness. [5]
Dalam diskursus CSR dikenal konsep triple bottom line[6], yaitu profit, people dan planet. Dimana perusahaan dalam melaksanakan kegiatannya tidak hanya mempertimbangkan keuntungan (profit) semata, tetapi juga masalah sosial dan lingkungan. Atau dalam konsep lain dikenal sebagai sustainability development, atau corporate philanthropy, corporate responsibility.
Nah ketika membahas ttg issue sosial dan lingkungan, perusahaan tentunya tidak bisa bekerja sendiri, maka lahirlah konsep tri sector partnership. Yaitu kerjasama antara perusahaan, pemerintah dan masyarakat.
Dan melalui forum pertemuan stakeholder seperti inilah, komunikasi antara ketiga sektor tersebut di jalin dan diperkuat. Dengan tujuan bersama menciptakan sebuah tatanan dunia yang lebih adil bagi seluruh penduduk bumi.
[1] Carroll, A. 1999. Corporate Social Responsibility, Evolution of a Definitional Construct, Business and Society, Vol. 38/3.
[2] Balza, M. and Radojicic, D. 2004. Corporate Social Responsibility and Nongovernmental Organizations. International Master’s Programme in Strategy and Culture. Linkoping Universitet.
[3] Blowfield, M. and Frynas, J. 2005. Setting New Agendas: Critical Perspectives on Corporate Social Responsibility in theDeveloping World. International Affairs, Vol. 81/3.
[4] Dahlsrud, A. 2008. How Corporate Social Responsibility is Defined: an Analysis of 37 Definitions. Corporate Social Responsibility and Environmental Management Corp. Soc. Responsib. Environ. Mgmt. 15, 1–13
[5] Sebagai bahan utk memperkaya ttg definisi CSR, silakan lihat Vogel, D. 2005. The market of virtue. The potensial and limit of corporate social responsibility. Brookins institusion press; Kotler, P. And Lee, N. 2005. Corporate social responsibility. Doing the most good for your company and your cause. John Wiley and son, Inc.; Paine, L.S. 2003. Value shift. McGraw-Hill; Sagawa, S and Segal, E. Common interest common good, creating value through business and social sector partnership, Harvard Business school press.; Stigson, B. 2002. Pillar of change. Forum for applied research and public policy, vol 16 No. 4: Schwartz, P and Gibb, B. 1999. When good companies do bad things. John wiley and Sons.; Robert, K. H. 2002. The natural step story, seeding a quiet revolution, New Society Publisher.; Marinetto, M. 1999. The historical development of business philanthropy. Business history vol 41 No. 4.
[6] Istilah ini pertama kali dipopularkan dalam tulisan Elkington, J. 1997. Cannibals with Forks: The Triple Bottom
Line of 21st Century Business. Thompson. London.
0 komentar:
Post a Comment