Kemampuan Komunikasi sebagai faktor pemicu Malapraktek

Phillips dan Jones (1991) mengatakan bahwa “being sick is a solitary enterprise”,[1] hal ini dikarenakan yang mampu mendeskripsikan dengan baik hanyalah si sakit itu sendiri. Bahkan keterbatasan kemampuan pasien untuk mendeskripsikan rasa sakit tersebut, bisa menjadi masalah bagi dokter.

Persepsi terhadap penyakit, pengetahuan tentang pencegahan dan perawatan penyakit, bisa mempengaruhi persepsi dan perilaku pasien terhadap penyakit. Persepsi ini bisa berbeda dengan pengetahuan yang dimiliki oleh dokter. Dengan adanya konsultasi medis diharapkan kesenjangan ini dapat dijembatani sehingga bisa dirumuskan satu tindakan medis yang tepat.[2]

Penelitian terhadap dokter, memperlihatkan bahwa mereka tidak melakukan upaya untuk mendorong pasien mengungkapkan perasaan dan pandangannya tentang penyakit atau bahkan sering menghalangi pasien untuk melakukan hal tersebut. Dokter juga sering tidak memberikan tanggapan atas apa yang diungkapkan oleh pasien. [3]

Mishler (1984) menyatakan bahwa terdapat kesenjangan komunikasi antara dokter dan pasien dikarenakan kebiasaan dokter menggunakan “voice of medicine”, sedangkan pasien menggunakan “voice of life world” untuk mengungkapkan perilaku dan kebiasaan dalam kesehariannya.[4]

Pasien juga melakukan kebiasaan yang membuat komunikasi antara dokter dan pasien berjalan tidak terbuka. Pasien jarang mengekspresikan perasaan tidak setuju dan ketidakpuasannya, kalaupun mereka mengungkapkan umumnya dengan cara bergumam yang hampir tidak terdengar.[5] Padahal konsultasi medis dapat berlangsung dengan efektif jika dibangun melalui penjelasan yang terperinci dan ditambah lagi dengan respon berupa pengajuan pertanyaan dari pasien.[6]

Hasil analisa atas percakapan antara dokter dan pasien menunjukkan adanya gangguan yang ditimbulkan ketika pasien bertanya, biasanya berupa ketidaksukaan atau ketidaknyamanan.[7] Selain itu, pasien biasanya ragu-ragu untuk bertanya terutama tentang hal yang berhubungan dengan pengetahuan medis seperti hasil dari pemeriksaan dan sebab-sebab penyakit.[8]

Beberapa penelitian juga membuat suatu hipotesa bahwa menanyakan pertanyaan langsung membuat pasien merasa takut.[9] Hal ini menunjukkan adanya kekurangmampuan pasien dalam mengkomunikasikan apa yang mereka inginkan,[10] serta mereka enggan untuk menunjukkan pengetahuan medis mereka hanya untuk menghormati dokter tersebut. [11]

Weijts (1994) melihat bahwa terdapat permasalahan gender dalam komunikasi antara pasien dan dokternya. Pasien perempuan lebih aktif dalam berkomunikasi disebabkan posisi sosial mereka yang lebih bertanggungjawab terhadap kesehatan keluarga, dan karena adanya “sexual subculture” perempuan yang lebih ekspresif dalam percakapan dan menciptakan kedekatan. Sedangkan laki-laki, gaya percakapan mereka cenderung untuk mempertahankan kemandirian dan status, serta menunjukkan kemampuan diri. Terdapat perbedaan makna dari pengajuan suatu pertanyaan kepada dokter, bagi pasien perempuan mengajukan pertanyaan adalah upaya untuk membangun ikatan antara dia dan dokternya. Sementara bagi pasien laki-laki. mengajukan pertanyaan dianggap sebagai suatu kebiasaan yang menunjukkan ketidaktahuan dan statusnya menjadi inferior.[12]

Kesenjangan yang dihasilkan karena jeleknya komunikasi antara dokter dan pasien, dalam sosiologi medis dipahami sebagai akibat hubungan kekuasaan yang tidak seimbang antara dokter dan pasien yang menempatkan mereka seperti seorang ahli (expert) dan seorang bodoh (layperson).[13] Hubungan ini menciptakan hirarkis antara dokter dan pasien yang justru dipertahankan oleh mereka berdua dalam “ceremonial order of the clinic” dengan tetap melakukan kebiasaan lama seperti dijelaskan diatas.[14]

Tidak berjalan mulusnya komunikasi antara dokter dan pasien menyebabkan permasalahan yang bisa berakibat fatal (Tabel I.1, kasus no.17 dan 15). Hal yang paling terganggu adalah upaya untuk menegakkan diagnosis. Padahal pencarian diagnosis adalah langkah awal untuk melakukan terapi medis. Jika langkah awal saja sudah salah, sudah bisa dipastikan langkah selanjutnya akan salah.


[1] Phillips, Gerald M, & Jones JA. Op.cit.

[2] Kleinman A. 1980. Patients and Healers in The Context of Culture: An Explorations of The Borderland Between Anthropology, Medicine, and Psychiatry. Barkeley: University of California Press.

[3] Lihat Korsch BM, Gozzi EK, & Francis V. 1968. ”Gaps in Doctor-Patient Communication: Doctor-Patient Interaction and Patient Satisfaction”. Pediatrics; 42:855-871. Lihat pula Tuckett D, Boulton , Olson C, & William A. 1995. Meeting Between Expert : An Approach to Sharing Ideas in Medical Consultations. London: Tavistock.

[4] Mishler EG. 1984. The Discourse of Medicine: Dialetics of Medical Interviews. Norwood, NJ: Ablex.

[5] Stimson GV, & Webb B. 1975. Going to See The Doctor: The Consultation Process in General Practice. London: Routladge & Kegan Paul.

[6] Weijts W. 1994. “Responsible Health Communication; Taking Control of Our Lives”. American Behavioral Scientist. Vol. 38. No. 2. Hal 257-270.

[7] West C. 1984. Routine complications. Troubles with Talk Between Doctors and Patients. Bloomington: Indiana University Press.

[8] Weijts W, Widdershoven G, & Kok G. 1991. “Anxiety-Scenarios in Gynecological Consultations”. Patient Education and Counseling. 18. 149-163. Lihat pula Weijts W, Widdershoven G, Kok G, & Tomlow P. 1993. “Patients Information-Seeking Actions and Physician’s Response in Gynecological Consultations”. Qualitative Health Research, 3i. Hal 398-429.

[9] West C. Op.cit. Lihat pula Greenfield S, Kaplan SH, & Ware JE. 1985. “Expanding Patient Involment in Care”. Annals of Internal Medicine, 102, 520-528.

[10] Hughes D. 1982. “Control in Medical Consultations: Organizing Talk in A Situation Where Co-partisipants Have Different Competence”. Sociology, 16, 359-376. Lihat pula Tucket D, et.al. Op.cit.

[11] Ten Have P. 1991. “Vormen en Inhoud Vanspreekuurgesprekken” [Nature and Content of Conversations during Medical Office Hours]. Huisart en Wetenschap,34. Hal 330-333.

[12] Weijts Weis. 1994. Op.cit.

[13] ibid.

[14] Strong, P. 1979. The Ceremonial Order of The Clinic: Patient, Doctors, and Medical Bureaucracies. London: Routledge & Kegan Paul.

0 komentar:

Post a Comment