Sakit bukan hanya permasalahan masuknya bakteri, virus kedalam tubuh kita, atau tidak berfungsinya organ-organ tubuh akibat masuknya benda luar ke dalam tubuh. Sakit juga memiliki implikasi sosial, ahli yang pertama mengemukakan hal ini adalah Parsons (1951), dia menyatakan bahwa sakit tidak hanya dilihat sebagai suatu gejala patofisiologis tetapi juga sebagai gejala sosial.[1] Bahkan Amstrong (2000) menyatakan bahwa penyakit tidak hanya berhubungan dengan masalah biologi tetapi juga sosial, dan suatu saat bisa tidak berhubungan dengan masalah biologi, tetapi bagian dari suatu realitas sosial karena sakit dan sehat telah dikonstruksikan secara sosial[2]
Parsons melihat sakit sebagai gejala sosial membawa akibat bagi seseorang yang merasa dan menyatakan dirinya sakit memiliki peran sakit, yaitu;
o Dibebaskan dari peran sosial normatif. Pembebasan ini sebenarnya relatif, tergantung pada sifat dan tingkat keparahan keadaan sakit tersebut. Semakin parah keadaan sakit seseorang, semakin banyak ia dibebaskan dari peran sosial. Pembebasan dari peran sosial ini perlu dikuatkan oleh pernyataan dokter sebagai pihak yang berwenang dalam masalah tersebut.
o Tidak bertanggungjawab atas keadaannya. Keadaan sakit seseorang dianggap diluar kendali. Keadaan sakit ini perlu diubah melalui proses medis, lepas dari kemauan dan motivasi orang tersebut.
o Harus berupaya untuk sembuh. Berbeda dengan aspek pertama dan kedua peran sakit yang merupakan persyaratan, aspek ketiga ini merupakan pengakuan si sakit bahwa keadaannya tidak menyenangkan.
o Harus mencari pengobat (dokter) dan bekerja sama dengannya selama proses penyembuhan.[3]
Seseorang yang dianggap sakit akan dianggap lemah oleh masyarakat, karenanya, untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat akan kemampuan dan eksistensi dirinya, seseorang haruslah tetap sehat.[4]
Akan tetapi, tidak selamanya sakit dianggap sinonim dengan ketidakmampuan. Bahkan ada yang menganggap sakit sebagai “pelepasan sementara” dari rutinitas seperti berlibur, yang merupakan tingkah laku adaptif yang wajar dan aktif dicari dan dapat merupakan cara hidup yang memuaskan. [5]
Peranan sakit yang telah dirasakan oleh seseorang akan berubah menjadi peranan pasien, jika orang tersebut mendatangi dokter dan melaksanakan semua hal yang diperintahkan oleh dokter. Dipahami secara mudah, perbedaan kedua peranan ini menurut C. Taylor (1970:76) digambarkan, “Bila orang sakit masuk rumah sakit, ia harus dirubah menjadi seorang pasien”. [6]
Posisi pasien ketika berhadapan dengan dokter di dalam rimba kedokteran sangat lemah. Kelemahan ini selain berasal dari kekurangpahaman pasien tentang dunia kedokteran, juga dikarenakan konstruksi berfikir yang berasal dari konstruksi budaya masyarakat. Kepercayaan dokter sebagai penolong bahkan cenderung didewakan[7], hal ini membawa akibat pasien dan masyarakat secara umum bersikap menerima dan menyerahkan seluruh kepercayaan kepada dokter.
Hubungan antara dokter dan pasien, lebih merupakan hubungan kekuasaan, dimana bentuk hubungan tersebut adalah hubungan antara pihak yang aktif memiliki wewenang dan pihak yang lemah (Russel, 1938; Freidson, 1960; Freeborn dan Darsky, 1974; Szasz dan Hollender, 1978). Hubungan ini, juga dipengaruhi oleh jenis praktek dokter (Schwartz dan Kart, 1978; Kisch dan Reeder, 1969).[8]
Menurut Waitzkin dan Waterman, hubungan dokter dan pasien adalah hubungan kekuasaan terapeutik yang bersifat paternalistik, dimana pasien tidak boleh ikut serta dalam menentukan jenis perawatan.[9]
Szazs dan Hollender (1978), mengemukakan beberapa jenis hubungan antara pasien dan dokter dengan didasari analogi hubungan orang tua dan anak, hubungan orang tua dan remaja, dan hubungan antar orang dewasa. Terdapat 3 pola hubungan dasar dokter dan pasien yaitu:
1. Pola dasar hubungan aktif-pasif. Dalam keadaan ini pasien tidak dapat berbuat sesuatu dan hanya menerima. Dokter ditempatkan dalam keadaan yang superior. Menurut Jones (1951) dan Marmor (1953) para dokter tidak lagi mengidentifikasikan pasien sebagai manusia, namun hanya sebagai benda biomedis dan Jones mengistilahkan sebagai keadaan the god complex.[10] Ditemukan pada keadaan ketika sakit darurat.
2. Pola dasar hubungan membimbing-kerjasama. Dokter masih menjadi tokoh sentral dalam membuat keputusan tetapi tidak melakukan disidentifikasi terhadap pasien, yang menganggap sebagai benda biomedis. Dokter menganggap bahwa dia hanya sekedar membimbing pasien untuk menjadi sehat. Szasz dan Hollender mengistilahkan pygmalion complex[11] biasanya pada kasus sakit yang tidak berat, misalnya pada sakit alergi atau penyakit akut.
3. Pola dasar hubungan saling berperan serta. Hubungan ini didasarkan pada struktur sosial yang demokratis. Ditemukan pada kasus pasien sehat yang melakukan medical check-up rutin. [12]
Weiss dan Lonnquist (1997) melihat hubungan antara petugas kesehatan dan pasien cenderung tidak setara dikarenakan:
a. Prestise pekerjaan. Berdasarkan pengetahuan dan pengalaman medis sehingga terbentuk legitimasi sosial bahwa tenaga kesehatan lebih punya wewenang.
b. Otoritas. Sebagai tenaga kesehatan yang mapan, menganggap bahwa pelayanannya terhadap pasien merupakan pengakuan pilihan dari pasien.
c. Situasi ketergantungan pasien terhadap aturan, sehingga pasien harus mendatangi, membuat janji, menunggu, menjawab semua pertanyaan dari tenaga kesehatan, dan harus mau untuk melakukan pemeriksaan fisik.[13]
Selain itu, dokter sebagai pemberi layanan kesehatan juga mengalami stratifikasi didalam pekerjaannya. Stratifikasi ini, menurut Pearson (Waitzkin dan Watterman, 1993) didasarkan kepada kompetensi, atau sumber dari stratifikasi adalah adanya competence gap.[14]
[1] Parson T. 1951. The Social System. New York: Free Press.
[2]Armstrong D. 2000. ”Social Theorising About Health and Illness” in Albrecht, G, et al (eds). Handbook of Social Studies in Health and Medicine. London: Sage. Hal. 24-35.
[3]Benyamin Lumenta. Op.cit. Hal 23.
[4]Parsons T. 1978. Action Theory and The Human Condition. London: Macmillan.
[5]Nolen. 1974. A Surgeon’s world. Greenwich, Conn: Fawcett.
[6]Foster GM, Anderson BA. 1986. Antropologi Kesehatan. Penerjemah: Priyanti PS. & Meutia F. Hatta. Jakarta: UI Press. Hal 171-174.
[7]Lihat sumpah dokter pada zaman Hippocrates (500 SM). Dapat dilihat dalam Macfadden CJ. 1958. Medical Ethics. 4th ed. Davis, Phil. Hal 483-484.
[8]Benyamin Lumenta. Tahun tidak diketahui. Pasien: Citra, Peran dan Perilaku: Tinjauan Fenomena Sosial. Yogyakarta. Kanisius. Hal 70-71.
[9]Richard B. Waitzkin & Barbara Waterman. 1986. Mengeksploitasi Penyakit Demi Keuntungan. Jakarta: Swara Prima. Hal. 22-26.
[10]The God Complex adalah perilaku maha tahu.
[11] Pygmalion Complex adalah perilaku ingin menjadikan seseorang sebaik dirinya.
[12] Benyamin Lumenta. Op.cit. Hal 72-75.
[13] Maria Soedarmo. 2002. Persepsi Pasien Terhadap Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit Caltex Pasific Indonesia Rumbai Pekanbaru Riau. Tesis. Program Studi Sosiologi Kekhususan Manajemen Pembangunan Sosial. Hal 11.
[14]Ibid.
0 komentar:
Post a Comment